PEREMPUAN DAN PEKERJAAN KASIH

sumber gambar: Pinterest

Oleh: Margareta Febriana Rene

Memasuki zaman serba digital. Seringkali saya menemukan “Get Well Sooneven “Rest in Peace“ pada laman media sosial. Entah ditujukan kepada anggota keluarga, sahabat, kerabat atau orang-orang yang dikenal. Tentu saja, hal ini pun telah mewakili banyak perjumpaan. Saya merasa semakin hari, dunia digital semakin menguasai manusia untuk menghemat perjumpaan pada dunia nyata dengan mewakilkan banyak penghiburan dan belasungkawa melalui dunia maya.

Saya kira perjumpaan akan semakin miskin terlahir dari orang-orang di bumi ini, namun pikiran itu tidak ada lagi sejak saya bergabung bersama salah satu kelompok doa di Gereja, yakni kelompok Legio Maria.

Suatu sore, saya menerima sebuah pesan dari Grup Whatsapp Legio Maria Paroki, bahwa ada jadwal kunjungan orang sakit di Rumah Sakit Umum. Seperti biasa, ini merupakan tugas wajib bagi para legioner, bisa juga disebut sebagai tugas kerasulan.

Sesuai jadwal kunjungan, saya pun bertemu para legioner lainnya yang semuanya adalah perempuan, di rumah sakit. Tanpa membuang waktu, kami mulai mengunjungi ruangan-ruangan khusus orang sakit. Beberapa orang terlihat bertanya-tanya, melalui ijin dan bantuan petugas, kami pun diberi ruang dan kesempatan untuk menyapa yang sakit maupun keluarga yang menjaga.

Satu hal yang membuat saya terharu adalah bagaimana orang-orang sakit sangat terlihat antusias dan gembira saat mendapatkan kunjungan. Kami juga memberikan penghiburan dalam bentuk doa dan penguatan kasih. Satu hal yang menarik adalah, tidak peduli latar belakang agama sang pasien dan keluarganya, kami disambut dengan penuh gembira dan bahkan diminta khusus untuk terus mendoakan yang sakit.

Berkali-kali mengikuti tugas kerasulan ini, saya terus saja merasa terharu dan bahagia. Penghiburan ini memang bukan dalam bentuk pertolongan yang bisa membantu pasien secara material, tetapi melihat respon para pasien, kami memiliki rasa bahagia yang sama. Rasa bahagia lainnya adalah bagaimana setiap legioner tak pernah absen meluangkan waktunya, memberi jiwa raganya untuk bergerak pergi mengunjungi sesama yang bahkan tidak saling mengenal.

“Ibu, saya sudah sebulan mengalami sakit parah, saya mohon doanya. Terima kasih telah mengunjungi saya.”

Saya terus mengingat kata-kata seorang pasien yang terus mengungkapkan rasa syukurnya kepada salah satu legioner .

Dari pengalaman menganggumkan ini, saya belajar banyak hal tentang pekerjaan kasih. Pekerjaan yang tidak sulit untuk dilakukan namun berdampak besar bagi yang menerima.

Kasih merupakan sebuah kata kerja. Setiap kita pasti telah mengetahui atau pernah melakukannya. Kasih yang telah kita berikan atau kita lakukan adalah sebuah pekerjaan kasih. Gambaran pekerjaan kasih telah terjadi dalam banyak wujud atau bentuk baik sebatas ungkapan hingga tindakan nyata.  Apalagi jika kita sungguh melibatkan diri dalam banyak aksi kemanusiaan.

Pekerjaan kasih juga sering terlihat nyata dari gambaran seorang Ibu atau Mama. Perempuan sang pemilik rahim. Saya teingat tentang lagu “Kasih Ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.” Lagu ini menjadi lagu sepanjang masa yang terus mengingatkan saya tentang betapa kekuatan kasih itu sungguh luar biasa. Sebab sekiranya kasih yang telah Ibu ajarakan boleh menjadi lestari dengan membagikannya kepada sesama , terutama bagi mereka yang sungguh sangat membutuhkan.

Perempuan dalam gambaran Ibu atau para legioner dalam cerita di atas, sesungguhnya telah menunjukkan bahwa perempuan selalu senantiasa berdaya dalam banyak bentuk dan aksi nyata, salah satunya dalam hal sederhana yakni pekerjaan kasih.

Tindakan-tindakan pekerjaan kasih meski kecil atau sederhana yang terus diwujudnyatakan bisa menjadi bagian penting untuk kesejahteraan bersama. Pekerjaan kasih tentu harus berlandaskan kasih. Kasih yang meliputi cinta, ketulusan, keiklhasan, kerelaan hingga pengorbanan.

we cannot all do great things, but we can do small things with great love” _Mother Teresa.

Ungkapan di atas merupakan salah satu ungkapan kasih yang disampaikan Morther Teresa. Salah seorang tokoh kudus Katolik yang sangat menginspirasi banyak orang di dunia khususnya kaum perempuan. Sebagai salah satu perempuan katolik, saya terus merasa dikuatkan oleh banyak kisah dan ungkapan-ungakapan kasih yang disampaikan Mother Teresa. Saya pun yakin bahwa setiap perempuan memiliki kasih dan caranya masing-masing dalam mengungkapkan kasih, baik dari apapun yang telah dia terima, pelajari atau dilakukan.  Perempuan berdaya bisa memulainya dengan pekerjaan kasih.

 

Sumber Gambar: Pinteres

 

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest