PEREMPUAN SEBAGAI AGEN TOLERANSI

Perempuan Perbedaan

Oleh: Margareta Febriana Rene

 

Pandemi Covid-19 yang masuk Indonesia sejak awal tahun 2020 memang mengharuskan Negara membuat beberapa peraturan bagi seluruh warga. Satu di antaranya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tentunya berpengaruh pada banyak aspek kehidupan seperti sekolah dari rumah, bekerja dari rumah dan bahkan beribada di rumah. Peraturan negara semacam ini tak selalu berakhir positif, dalam beberapa aturan malah justru memunculkan persoalan baru lainnya.

Sebelum beraktivitas, Bapak selalu memulai harinya dengan menikmati segelas air putih panas dan sajian tayangan berita pagi dari beberapa stasiun  televisi dengan volume suara yang bisa didengar seisi rumah. Di suatu pagi, dari dapur, saat sedang sibuk memotong sayuran, saya tiba-tiba mendengar Bapak mengomel hingga terdengar seperti berdebat dengan suara presenter Televisi.

Omelan terus berulang higga memunculkan rasa penasaran saya, karena itu saya pun memutuskan untuk mengangkat sayuran dan duduk di samping Bapak untuk ikut serta menyaksikan tayangan televisi yang kemudian membuat Bapak saya merasa emosional.

Benar saja, sebuah berita memiluhkan datang dari tanah air tepatnya di daerah Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Nampak sebuah video yang memperlihatkan sejumlah orang sedang beribadah di rumahnya sendiri lalu dibubarkan orang lain.

Berdasarkan penjelasan dalam berita, nampak dua pria marah-marah kepada satu keluarga dan melarang mereka untuk melanjutkan ibadah di rumah. Keduanya disebut sebagai Ketua RT dan pemimpin salah satu agama.  Kejadian menyedihkan tersebut kemudian direkam dan diedarkan di media sosial oleh salah satu anggota keluarga. Hal ini tentu saja menimbulkan keprihatinan hingga mengundang banyak perdebatan di antara netizens atau warga umumnya. Persoalan semacam ini memang bukan satu-satunya yang terjadi di negara dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”_”Berbeda-beda tetapi tetap satu” ini.

Terlahir sebagai warga Negara Indonesia berarti terlahir sebagai manusia yang harus siap hidup dalam keberagaman. Mulai dari keberagaman jenis kelamin, gender, suku bangsa dan budaya, adat-istiadat, ras, agama, golongan, bahasa, wilayah dan lingkungan, sampai berbagai macam keberagaman lainnya. Hidup dalam keberagaman berarti hidup dalam perbedaan. Ini bukan sekadar konsekuensi, tetapi fakta yang harus kita terima. Meski pada kenyataannya, belum semua warga negara ini siap untuk menerima atau bahkan terbuka dengan hal tersebut.

Seperti dalam kasus di atas, khusus soal beribadah. Faktanya, setiap ritual yang kita jalani belum tentu bisa diterima dengan terbuka oleh orang lain. Karena itu, sikap terbuka atau  toleransi masih harus terus disuarakan, tak boleh dibiarkan mengendap begitu saja. Sikap ini wajib dimiliki dan dijalankan oleh setiap warga Negara.

Dalam mendengungkan dan mewujudkan toleransi, perempuan salah satunya, juga memainkan peran penting. Setiap individu khususnya perempuan, wajib menjalankan tugas sebagai penyuara toleransi dengan menjadi agen toleransi.

Mengapa perempuan?

Perempuan sering distigma sebagai kaum paling lemah, lembut, dan seringkali dinomorduakan. Stigma ini bisa dibalikkan menjadi motivasi untuk sebuah pembuktian, bahwa perempuan juga bisa berperan dalam aksi sederhana yang dapat berpengaruh atau berdampak baik bagi sesamanya.

Menjadi Agen berarti menjadi perantara, menjadi ruang, menjadi penyuara bahkan pejuang untuk menyalurkan perdamaian, cerita keberagaraman atau kebaikan-kebaikan lainnya. Dalam hal ini, perempuan bisa berpartisipasi aktif dengan mengambil bagian sebagai agen toleransi.

Lalu, apa yang bisa kita (sebagai perempuan) mulai untuk menjadi agen Toleransi?

Pertama, tentunya dapat dimulai dari dalam diri kita sendiri dengan cara menjadi teladan. Hal ini akan mempermuda perjalanan kita sebagai perempuan dalam menyuarakan banyak cerita kebaikan, khsusunya tentang keberagaman. Misalnya saja kita bisa memulainya dari dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, lingkungan masyarakat hingga ke lingkungan yang lebih luas dan beragam.

Untuk menjadi teladan yang baik, poin kedua yang perlu dilakukan adalah Membekali Diri dengan memperdalam pengetahuan dan pengalaman. Sedang, pada point ketiga, kita harus berani menyuarakannya. Menyuarakannya berarti beraksi, bertindak atau melakukan sesuatu. Setiap perempuan bisa melakukannya dengan cara masing-masing sesuai porsi. Setiap perempuan bisa berdaya. Bisa dimulai dari diri sendiri, dari mana saja dan kapan saja.

Beberapa hal baik ini tentu masih dapat ditambah atau dikonkretkan. Dan sebagai perempuan, optimisme bahwa Menjadi Teladan, Membekali Diri, dan Mulai Menyuarakannya merupakan hal-hal penting yang dapat diwujudkan, haruslah makin hari makin subur.

Kita tentu mau hidup dalam damai dan kasih. Kita tentu mau tidak ada lagi konflik yang destruktif, terutama yang dipicu oleh perbedaan agama. Kita jelas mau Bangsa ini menjadi kian besar bukan karena catatan negatifnya tapi karena prestasi dan kolaborasi yang saling menguatkan. Dan sebagai perempuan, kita mesti tegas mengatakan, kita bisa menjadi Agen Toleransi. Di hati dan tangan kita, perdamaian bisa kita nikmati bersama.

Majulah, Perempuan. Jadilah Agen Toleransi! ***

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest