“PETROMAKS”

ER Pictures Collection

Oleh: Margareth Febhy Irene

 

“Kakak…Kakak… Bapak beli lampu baru. Kita ada lampu baru seperti listrik sekarang.” teriak Ina menyambut Ana sang Kakak yang baru saja tiba dari sekolah.

Ina masih kelas 1 SD. Para murid kelas 1 biasanya akan pulang lebih cepat daripada murid di tingkat yang lebih tinggi.

“Wah… kapan Bapak beli?” Jawab Ana sambil tersenyum pada adiknnya.

“Tadi sewaktu pulang sekolah.” Ina menjawab dengan riang gembira

Bapak Nandu baru saja membeli sebuah lampu Petromaks. Lampu Petromaks adalah sejenis alat penerang yang dinyalakan dengan bantuan Spiritus dan menggunakan bahan bakar dasar minyak tanah. Cahaya yang dihasil Petromaks tentu melebihi lambu biasa yang hanya menggunakan sumbuh kecil atau yang biasa disebut lampu semprongan. Sampai tahun 2002, penerangan listrik belum masuk ke wilayah tempat tinggal bapak Nandu, sehingga penggunaan lampu berbahan minyak tanah masih sangat dibutuhkan, namun pada umumnya hanya keluarga-keluarga kalangan mampu yang biasanya memiliki lampu Petromaks. Selain modelnya yang terlihat lebih mewah, lampu Petromaks masih masuk dalam golongan barang-barang berharga dengan nilai cukup mahal.

Tidak ada penjelasan apapun dari Bapak Nandu maupun Ibu Ria terkait barang berharga yang baru saja mereka beli. Meski pun penasaran, Ana tetap menyambutnya dengan sangat bahagia. Sebab Ana selalu tahu kondisi keuangan orangtuanya.

“Pokoknya mulai sekarang harus rajin belajar. Sudah ada lampu bagus yang lebih terang. Pagi-pagi lubang hidung tidak perlu lagi dikorek sampai luka karena asap lampu.” Jelas Bapak Nandu sambil menjama kedua kepala anak perempuannya.

“Hahaha… ia Bapak.” Jawab Ina dengan tertawa.

“Terimakasih Bapak dan Ibu.”Sambung Ana menunjukkan kegembiraannya.

Kokokan senja mulai terdengar. Beramai-ramai sekumpulan Ayam tetangga mulai terbang dan menetap di dahan-dahan pohon Nangka. Hari menandakan sudah usai oleh terang dan masuk menuju kegelapan.

“Bapak, ayo… nyalakan lampunya.” Ina terus berteriak kegirangan. Meminta Bapak Nandu segera menyalakan Petromaks baru mereka.

Dengan kelihaiannya, Bapak Nandu mulai menyalakan pertomaks sesuai prosedur pada kertas petunjuk penggunaan.

Malam itu berubah jadi lebih terang. Sisi-sisi ruangan jadi lebih kelihatan. Pekerjaan atau segala aktivitas malam pun jadi lebih bebas dilakukan. Termasuk kegiatan belajar Ana dan Ina. Kegembiraan keluarga Bapak Nandu kian bertambah. Keadaan terasa jadi lebih baik. Begitu seterusnya.

Di sekolah, Ina memamerkan harta benda barunya kepada beberapa teman kelas.

“Kami sudah punya lampu. Warna bolanya putih dan terang sekali seperti lampu listrik. Bapak saya beli kemarin.” jelas Ina.

Sebagai anak kecil, dia selalu ingin menunjukkan segala sesuatu yang menurutnya istimewa. Sama seperti kala ia memperkenalkan Kakaknya Ana yang meraih juara 1 umum pada penerimaan rapor semester ganjil.

“Kau bisa nyalakan lampu baru itu, Ina?”tanya seorang teman lelakinya.

“Tidak bisa. Hanya bapak yang bisa. Mama bilang tidak boleh.” Jelas Ina serius.

Percakapan seperti ini tidak hanya terjadi di sekolah. Aksi pamer Petromaks juga dilakukan Ina di lingkungan bermain. Kebanggaannya terhadap apa yang baru dibeli Bapak Nandu sungguh luar biasa.

“Kalau punya kami di rumah sudah ada dua. Satu untuk di ruang tengah dan satunya lagi untuk di dapur. Punya kalian Cuma satu.” sahut salah seorang anak tetangga yang cukup berada dalam aksi ikut pamer.

“Ia, kami punya juga punya dua. Ditambah dengan 1 senter dan radio.” yang lainnya pun beramai-ramai ikutan pamer harta benda di rumah masing-masing.

Mendengar semua hal itu, Ina merasa jadi sangat risih, sehingga dengan wajahnya yang murung dan cemberut, ia pun berlalu dari keramaian teman-temannya yang sedang asyk bermain di lapangan kecil di dekat tempat tinggal mereka.

“Bapak… Bapak…” teriakan Ina memanggil Bapaknya.

Setibanya di hadapan Bapaknya, ia tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

“Ina, kenapa menangis. Ayo cerita dulu sama Bapak.” Bapak Nandu menghampiri Ina sambil menggendong di pangkuannya.

Ina masih terus menangis. Tangisannya juga memanggil Ana Kakaknya dan Ibu Ria yang sedang sibuk menumbuk daun singkong untuk makan siang.

“Kenapa dia Bapak?” tanya Ibu Ria dengan nada panik dan kebingungan.

“Ina kenapa Bapak?” susul Ana juga menanyakan hal yang sama.

“Entahlah Bu, dia tiba-tiba pulang dan menangis. Mungkin dimarahi atau saling pukul dengan teman-teman bermainnya.”jelas Bapak Nandu sambil terus mencoba menenangkan Ina.

“Makanya, sudah Kakak bilang, kau main saja di sekitar rumah, jangan main jauh-jauh kalau tidak sama Kakak.” sinis kakaknya Ana dengan nada yang cukup tinggi.

Suara tangisan Ina yang tadinya hampir sampai ke Volume paling kecil, akhirnya kembali membesar.

“Sudah. Jangan marah adik. Dia pasti punya penjelasan.” Ibu Ria membela.

Selang beberapa waktu tepat di jam makan siang. Tangisan Ina pun selesai. Suasana kembali normal. Kesempatan itu dimanfaatkan Bapak Nandu dan Ibu Ria untuk bertanya soal alasan Ina tiba-tiba menangis.

“Ina sayang. Tadi kenapa Ina tiba-tiba menangis? Ada yang memukul Ina?” tanya Bapak Nandu dengan suara paling pelan dan penuh hati-hati.

“Tidak ada. Tadi Ina cerita soal lampu baru. Joji, Mia dan Daud bilang kalau mereka sudah lama punya lampu baru. Lampu mereka ada dua. Ada juga radio dan senter. Mereka tidak bilang senang karena rumah kita punya lampu baru.” jelas Ina panjang dan detail.

“Oh… begitu.” respon Ana dan Ibu Ria kompak.

“Makanya jangan suka pamer. Kakak dapat juara juga kau pamer. Itu kan jadinya.” Ana terus menyampaikan nasihat pada adiknya dengan cara yang cukup berbeda.

“Ana sudah. Ina tidak salah kok. Itu karena Ina bangga kan karena Bapak bisa beli lampu baru untuk kita?” Ibu Ria terus menengah dan membela Ina.

Ina merespon dengan anggukan sambil menghabiskan nasi dan sayurnya di piring.

“Tetapi sayang, kita orang sederhana, kita bukan orang kaya. Tidak perlu pamer semua hal yang kita peroleh” Bapak Nandu lagi-lagi menasihati anaknya dengan nada yang penuh hati-hati.

“Ia Bapak. Tetapi nanti Bapak beli senter dan radio?” jawab Ina sambil menatap Bapaknya penuh harapan.

“Tentu saja. Nanti kalau Bapak ada uang.”

 

Sudah seminggu mereka menikmati penerangan yang lebih baik berkat Petromaks. Semangat belajar Ina dan Ana pun ikut meningkat. Semakin banyak buku-buku yang dibaca Ana dari hasil pinjam di perpustakaan. Sedang Ina semakin sering melukis dengan krayon warna warni pemberian Ibu Sutry, seorang Guru TK yang rumahnya sering dibersihkan Ibu Ria.

Hari-hari berputar, Ana dan Ina disibukkan dengan aktivitas sekolah, sedang Bapak dan Ibu Ria disibukan dengan pekerjaan buruh tani yang baru beberapa hari lalu ditawarkan oleh seorang tetangga.

Malam Minggu, malam di mana keluarga Bapak Nandu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan berbagi cerita bersama anak dan istri. Namun semua serentak berbeda.

“Bapak… kenapa lampu baru tidak nyala.” tanya Ina penasaran.

Petromaks adalah lampu sekaligus benda kesayangan Ina.

“Lampu kita dipinjam Nenek Sia. Mereka sedang ada acara keluarga.” jawab Ibu Ria merespon pertanyaan anak bungsunya itu.

Nenek Sia adalah salah satu anggota kerabat Bapak Nandu dan Ibu Ria yang sangat baik dan akrab. Hanya saja rumah Bapak Nandu dan Nenek Sia sangat berjauhan. Meski sama-sama berlatar belakang keluarga kurang mampu, dalam banyak kesusahan dan kebutuhan keluarga Bapak Nandu dan Nenek Sia tetap saling membantu.

“Kenapa tidak bilang?” Ina terus bertanya

“Bapak Ibu baru saja mau menceritakannya. Tadi dipinjam saat Ina ke sekolah.” tambah Ibu Ria.

“Oh baik. Esok Nenek Sia bawa pulang?”

“Ia, esok pasti Nenek bawa pulang. Adik tidak usah khawatir. Malam ini kita pakai lampu semprong dulu” sambung Ana.

Tidak seperti malam-malam sebelumnya, mata Ina terpejam lebih cepat. Ngantuknya datang lebih awal. Ia terlelap di pangkuan Bapak Nandu.

“Bu, bagaiamana menjelaskannya kepada Ina. Dia masih kecil.” tanya Ana dalam nada pelan dan panik.

“Husss… nanti Ibu dan Bapak pikirkan itu.”

“Ia, Bapak akan usahakan lagi.”

“Andai saja itu tidak terjadi. Ibu hanya masih belum percaya kalau akan ada pencuri masuk ke rumah reot kita. Satu-satunya yang diambil juga barang paling berharga.” Ibu Ria menunduk sambil menyembunyikan air matanya.

“Sudah Ibu. Kita tidak bisa mengelak. Rumah kita gampang dimasuki orang. Ini semua juga kelalaian Bapak. Akan Bapak perbaiki lagi semua yang telah reot.”

“Ia Bu, jangan sedih. Saat itu terjadi Bapak Ibu pun sedang bekerja. Saya dan adik sedang sekolah. Anggap saja itu kesialan kita.” Ana coba menyakinkan Ibunya.

“Kasihan Ina, anak bungsuku. Dia pasti sedih. Kasihan juga Bapak, itu dibeli dari uang kerjanya selama sebulan yang diterima lebih dahulu agar bisa beli Petromaks.”

Malam minggu ditutup dengan tangisan seduh Ibu Ria. Kesedihan juga dirasakan Bapak Nandu. Rumah Keluarga bapak Nandu menjadi hening dan tenggelam di tengah cahaya pelita yang samar. Asap hitamnya kembali mengepul dan memenuhi lorong-lorong hidung ketiga manusia itu.

 

Foto: Pinterest

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest