Belajar Bersama di Rumah PR

Beberapa foto belajar bersama

Oleh: Margareth Febriana Rene

Sebagai seorang lulusan Sarjana Pendidikan yang kemudian bekerja tidak pada bidang yang relevan, saya sempat merasa bahwa fokus belajar saya pada Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar menjadi sia-sia. Bagaimana tidak, 4 tahun bergelut dengan berbagai mata kuliah dan pemebelajaran hingga melakukan berbagai magang agar bisa menjadi guru sekolah dasar yang profesional berakhir pada sebuah urusan administrasi dan program kerja yang berulang. Tetapi, bukan berarti pekerjaan itu tidak baik. Pekerjaan baru adalah ilmu dan pengalaman baru.

Pada tahun pertama bekerja sebagai staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di STKIP Santu Paulus Ruteng yang kini telah menjadi Universitas Katolik Indonesia santu Paulus Ruteng, merupakan waktu-waktu yang penuh dengan belajar dan latihan. Banyak hal yang benar-benar harus dimulai dari nol. Ia, sebab yang saya pelajari selama 4 tahun sebelumnya adalah Pendidikan  Guru Sekolah Dasar.

Cukup lama berusaha agar di luar pekerjaan, saya masih bisa mengembangkan atau menerapkan Ilmu dan menambah pengetahuan serta pengalaman saya. Dengan membagi waktu antara pekerjaan, keluarga dan segala urusan pribadi, saya mulai bergiat bersama komunitas Sastra Hujan, dan mengikuti berbagai kegiatan positif. Namun, seiring berjalannya waktu, semua itu masih terasa tidak cukup. Harapan ingin mengembangkan dan menyalurkan segala sesuatu yang telah saya pelajari sebelum wisuda pada tahun 2015 silam terus memaksa saya untuk berbuat sesuatu.

“Ayolah, lakukan sesuatu!”

Semua pebelajaran, materi dan bahkan metode-metode yang dulu pernah menjadi senjata ampuh dalam berbagi pengetahuan bersama adik-adik SD, seolah terus memaksa agar bisa keluar. Semua isi kepala seolah terpenjara dan meminta untuk dibebaskan agar bisa memilih tinggal pada otak-otak yang lain.

Pada akhir tahun 2017, saya memutuskan rehat sejenak dari banyak kegiatan. Sebenarnya bukan untuk fokus pada keinginan untuk berbagi sebagai seorang guru, melainkan untuk fokus pada keluarga yang saat itu sangat mengharapkan kehadiran dan bantuan saya. Masa sulit itu menjadi satu-satunya alasan saya untuk perlu berdiam di rumah dan menghentikan kebiasaan meninggalkan rumah dengan alasan mengikuti berbagai kegiatan. Di balik semua cerita di masa itu, saya bersyukur boleh mengalami banyak kejadian, karena pada akhirnya saya menemukan satu hal baik yang bisa saya ciptakan untuk mengawetkan fokus pengetahuan saya sebagai seorang S.Pd.

Coba Dulu

Hal yang terlintas dalam benak saya di awal tahun 2018 adalah mencoba untuk menghadirkan sebuah ruang belajar gratis yang mungkin juga sama seperti yang dilakukan banyak kaum pecinta dunia pendidikan. Meski tidak sangat yakin, saya tetap percaya bahwa setiap orang mempunyai konsep dan cara yang berbeda-beda. Dengan modal coba dulu, tanpa berpikir panjang tentang selanjutnya yang terpenting adalah coba dulu. Sebab saya percaya dari sebagian besar kebaikan-kebaikan bahkan kejahatan-kejahatan yang terjadi di muka bumi ini berawal dari mencoba. Dengan modal coba dulu, saya pelan-pelan mulai menentukan sasaran. Akan ke mana dan ke siapa saya mulai mendaratkan impian kecil tersebut. Lalu, mulailah percobaan awal dengan cara menawarkan jasa atau bantuan untuk membantu adik-adik di Kelompok Basis Gereja (KBG) Santa Maria Ratu Para Rasul Wilayah 13 Paroki Katedral Ruteng. Kebetulan di suatu kesempatan, saya menemani Mama untuk ikut serta dalam sebuah pertemuan kelompok. Moment itu saya manfaatkan untuk menyampaikan rencana terkait membantu adik-adik Sekolah Dasar di kelompok. Awal bicara, sempat merasa sangat ragu-ragu dan gugup. Kalau-kalau tawaran saya itu tidak direspon atau tidak diterima dengan baik. Namun betapa baiknya Bapak Ibu di kelompok, tawaran saya ternyata diterima dengan sangat antusias. Bahkan beberapa di antara mereka juga menawarkan anak-anak kecil mereka yang masih berusia 3-5 tahun untuk ikut dibimbing. Memang, sebagian besar anak kecil di kelompok kami tidak disekolahkan sejak usia dini, kebanyakaan di antara mereka langsung masuk sekolah dasar. Tetapi menariknya, sebagian besar anak-anak di lingkungan tempat saya tinggal yakni di Rangkat, anak-anak masih menekuni banyak permainan tradisional yang sering dimainkan anak era 90-an seperti saya. Di antaranya permainan karet-karetan, wayang, lempar batu, masak-masakan, permainan lompat tali, dan lain sebagainya. Saya cukup senang, dunia gadget masih jauh dari kehidupan mereka. Para orang tua di KBG cukup baik untuk tidak membiarkan anak-anak mereka menggunakan smart phone. Peluang untuk memperkenalkan mereka dengan buku, cerita-cerita atau dongeng, serta gambar dan mewarnai jadi lebih mudah. Beberapa orangtua juga cenderung lebih banyak membiarkan anak-anak berkembang secara alami dalam arti membiarkan mereka belajar tanpa harus ada bimbingan atau pengarahan khusus selain bimbingan orang tua.  Akhirnya, niat coba dulu pun menemukan respon positif. Selanjutnya menentukan waktu awal pertemuan kami, dengan catatan hanya untuk bertemu secara lebih personal dengan adik-adik kelompok agar bisa memperkenalkan harapan saya untuk membimbing mereka dan itu adalah niat coba dulu yang kedua. Setelah memperoleh persetujuan orang tua, saya tinggal menunggu persetujuan anak-anak mereka.

Pertengahan Februari 2018, saya pertama kali berjumpa dengan adik-adik KBG. Saya senang karena ternyata mereka pun antusias dan sangat senang untuk mengunjungi saya di rumah. Secara singat dan tentu menyenangkan, saya menjelaskan tujuan dan harapan untuk membimbing mereka dengan cara memberikan bantuan dalam menyelesaikan PR (pekerjaan rumah) yang diberikan guru dari sekolah, ya… tentu dengan konsep memberi pemahaman lanjutan agar kemudian mereka bisa menyelesaikan PR tersebut, sebab maksud saya bukan mengerjakan tapi membantu menyelesaikan. Selain PR, saya juga menyiapkan beberapa hal untuk bisa diperkenalkan ke adik-adik yakni kegiatan diawali dengan doa dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Mereka bisa memilih. Saya juga menyiapkan beberapa kertas mewarnai lengkap dengan perlengkapan mewarnai, yang telah disiapkan. Beberapa buku cerita anak untuk ditunjukkan agar setiap anaka bisa memilih. Sebab tidak semua anak meminati satu hal yang sama di luar kewajiban seperti belajar di sekolah. Semesta berpihak, saat itu kami pun bisa mulai belajar. Akhirnya usaha coba dulu yang kedua pun berhasil.

Kenapa Rumah PR?

Nama Rumah PR baru kepikiran setelah bimbingan pertama selesai. Konsep membantu menyelesaikan PR memang sudah sejak awal, tetapi menambahkan kata rumah terpikir belakangan. Nah, mengapa rumah dan mengapa PR? Rumah merupakan tempat ternyaman, tempat paling dirindukan dan tempat di mana semua rasa takut terabaikan. Karena itu saya ingin agar adik-adik bimbingan tidak merasa seperti di sekolah kedua atau di tempat kursus bahkan seperti sedang  diberi les privat meski konsep awalnya adalah membimbing. Sebab terkadang mood anak akan sangat berpengaruh pada proses apa yang sedang dialaminya. Saya hanya ingin mereka merasa nyaman dan gembira. Lalu, PR (pekerjaan rumah) adalah satu tugas yang diberikan guru dari sekolah untuk murid-muridnya, selain untuk mengembangkan pengetahuan murid-murid, PR juga sebuah latihan tanggung jawab kepada seorang anak, sehingga selain agar ia memperoleh nilai dengan adanya PR dia juga merasa memiliki rasa tanggungjjawab untuk menyelesaikan apa yang sudah dipercayakan kepadanya. Saat itu, sangat berharap dengan adanya konsep Rumah PR mereka akan merasa terbantu, termotivasi dan semangat untuk menyelesaikan tanggungjawab  mereka. Melalui jalur PR anak-anak bisa diajak membaca, mendengarkan cerita, bernyanyi, latihan dan sebagainya.

Sejauh ini, Rumah PR masih sebatas nama dan ruang kecil yang tentunya telah menciptakan banyak kenangan, kebaikan dan cerita-cerita seru. Sejak menjadwalkan pertemuan di setiap akhir pekan, saya selalu berusaha meluangkan waktu, kecuali jika sedang berhalangan. Dengan teknik dan metode mengajar saat Praktik Lapangan saat kuliah dulu, saya berusaha memberikan warna baru bagi mereka. Tidak selalu berjalan mulus, terkadang saya harus mengatasi beberapa hal. Termasuk dalam membagi waktu agar terus konsisten dalam membantu perekembangan belajara dan pengetahuan mereka.

Kegiatan ini akan terus saya lanjutkan. Sebab hingga sekarang dukungan dari para orang tua, baik secara moril maupun materi tetap terus mengalir. Materi yang biasa saya terima bukan uang, tetapi beberapa buku, alat tulis dan mewarnai atau tawaran teras rumah tempat belajar.

Saya juga berterima kasih kepada Perpustakaan Klub Buku Petra yang telah meminjamkan kami beberapa buku seperti buku Tintin, Donal bebek, ensiklopedi dan beberapa buku lainnya. Berkat ini juga, adik-adik terbiasa membaca dan berkomunikasi dengan baik. Daya juang dalam menyelesaikan PR atau pun mempelajari banyak hal baru juga semakin membaik.

 

Foto: Eby

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest