“BAPAK NANDU”

Pinterest

oleh: Margareth Febhy Irene

“Hari ini, kita makan nasi dan sayur saja. Nanti, minggu kedua barulah Bapak belikan ikan.”

Seperti hari-hari sebelumnya. Makan nasi jagung ditemani daun singkong rebus yang ditumbuk, sudah jadi hal biasa. Kebersamaan adalah kenikmatan yang sesungguhnya. Itulah Prinsip yang selalu ditanamkan sejak dini oleh keluarga Bapak Nandu dan Ibu Ria. Mereka adalah keluarga sederhana yang mempunyai dua orang anak perempuan dengan umur yang tidak jauh berbeda. Anak sulung mereka bernama Ana usia 9 tahun dan adiknya bernama Ina usia 6 tahun. Bagi keduanya, hidup sederhana bukanlah sebuah halangan untuk bahagia dan berbaur bersama teman-teman di lingkungan yang berasal dari keluarga mampu. Namun, meski demikian, mereka pun tidak mengelak kalau sesekali hanya bisa bermain berdua di sebuah kebun kecil samping rumah, tempat di mana Ibu Ria sering menghabiskan sebagian waktu untuk mebersihkan rerumputan, menanam batang ubi singkong atau jagung dan sesekali pada musimnya, perempuan berkulit putih dengan rambut sebahu itu juga menanam buncis.

Bapak Nandu adalah seorang kuli bangunan yang juga terkadang merangkap jadi petani. Meski perawakannya kecil, Bapak Nandu adalah sosok yang sangat gigih dalam bekerja. Sebenarnya beliau merupakan seorang lulusan PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik), tetapi di tahun 2002, mencari pekerjaan untuk lulusan PGAK tidaklah mudah. Karena itu, demi menghidupi keluarga kecilnya, Bapak Nandu rela bekerja apa saja. Baginya, pekerjaan apa pun sejauh itu halal dan bisa menghasilkan berkat dan rejeki sudah merupakan sebuah keberuntungan. Sangat perlu disyukuri.

Di pinggiran sebuah kota, dekat pegunungan, mereka hidup di rumah yang sangat sederhana. Malam bercahayakan pelita dan udara dingin yang masih bisa menembus cela-cela dinding bambu. Satu-satunya kehangatan adalah kebersamaan.

Sebagai seorang Bapak yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup baik di jaman itu. Bapak Nandu selalu meluangkan satu jam bersama kedua putrinya di malam hari sebelum beranjak tidur. Bapak Nandu seringkali menceritakan masa mudanya dulu, tentang susahnya bersekolah dan memperoleh makanan.

“Dulu, untuk mendapatkan nasi sepiring, Bapak harus bekerja membantu di rumah-rumah warga. Sesekali sehabis sekolah, Bapak akan bersihkan kebun asrama putera milik salah satu biara susteran agar bisa mendapatkan sedikit beras dari gudang asrama atau bisa dapat pakaian bekas anak asrama yang tidak lagi terpakai untuk menggantikan baju Bapak yang hampir robek”

“Mereka tidak kasih Bapak uang?” Ana bertanya karena penasaran.

“Waktu itu Bapak tidak butuh uang. Bapak lebih membutuhkan beras untuk bisa makan.” jawab Bapak Nandu sambil menatap anak sulungnya. 

“Hidup Bapak selalu berpindah-pindah tempat sesuai dengan permintaan pekerjaan. Tetapi walaupun berpindah-pindah, Bapak tidak lupa untuk belajar dan hadir sekolah, karena kata kakek, sekolah itu penting.”

Bapak Nandu adalah seorang yatim piatu yang berasal dari sebuah desa yang sangat jauh. Bapak Ibunya telah lama meninggal sejak ia masih berada di bangku Sekolah Dasar. Ia hanya memiliki satu adik laki-laki yang telah lebih dahulu merantau ke kota dan bekerja di salah satu biara sebagai tukang kebun. Adiknya tidak lagi memiliki semangat bersekolah usai kepergian kedua orangtua mereka. Ana dan Ina pun tak pernah merasakan bahkan melihat sosok Kakek dan Nenek mereka.

“Bagaimana Bapak Sekolah? Siapa bayar?” Ana melontarkan lagi pertanyaan baru.

“Bapak bisa sekolah berkat usaha Kakek Piu. Kakek Piu yang sudah banyak usaha dan dukung Bapa supaya bisa sekolah. Kakek Piu adalah adik kandung Kakek kalian. Tetapi ya… itu dia, Kakek Piu hanya mampu membiayai uang sekolah Bapak, untuk biaya hidup, Bapak harus usaha sendiri.”

“Semoga nanti Ana dan adik bisa beli Bapak baju baru.”

“Amin. Karena itu Ana harus sekolah baik-baik, supaya Ana bisa ajar adik juga untuk  belajar banyak hal”

“Nanti saya beli permen kaki warna merah banyak.”kata Ina dengan impiannya yang masih sangat polos.

Ketiganya sontak memecahkan keheningan malam dengan tawa bahagia. Sedang Ibu Ria, hanya tersenyum sambil menyelesaikan pekerjaanya membereskan pakaian-pakaian yang harus dilipat dengan rapi. Dalam kondisi yang sederhana, mereka bahkan belum memiliki setrika kayu.

Kelam hitam semakin larut, cerita terus berlanjut, sampai Ana dan Ina terlelap.

Sebelum tidur, Bapak Nandu dan Ibu Ria selalu bersama-sama meluruh jagung kering yang disimpan lama di atas perapian dari hasil panen. Jagung yang diluruh kemudian akan dimasak hingga matang sebagai ganti sarapan pagi keesokan harinya. Begitu seterusnya demi menghemat persiapan beras.

Di suatu pagi, Ana dan Ina tidak bangun lebih cepat seperti saat hari sekolah. Saat itu hari sedang libur. Ia, Ana saat itu sudah duduk di kelas 3 SD dan adiknya Ina masih duduk di kelas 1 SD. Ketika bangun mereka mendapati seisi rumah yang kosong. Bapak dan Ibu tidak ada di rumah. Ana coba memanggil-manggil Bapak dan Ibunya tetapi tak mendengar jawaban apapun. Sampai akhirnya ia mengajak Ina, adiknya yang terlihat hampir menangis untuk mencari Bapak dan Ibunya.

Ada dua kemungkinan saat itu. Bapak Nandu dan Ibu Ria berada di kebun Kopi milik salah seorang tetangga yang kadang dikerjakan Bapaknya atau sedang ke hutan pergi mencari kayu bakar. Sepengetahuan Ana, Bapak Nandu belum mendapatkan proyek bangunan apapun, selain pekerjaan memetik kopi pada kebun tetangga yang cukup luas.

Sebagai anak kecil, apalagi perempuan, Ana belum cukup berani untuk mencari Bapak Ibunya di kebun Kopi milik tetangga yang cukup jauh dari rumah dan apalagi harus ke hutan. Jalan satu-satunya adalah mencari di rumah sang pemilik kebun.

“Halo Tanta. Bapak dan Ibu kerja di kebun hari ini?”

“Tidak Ana. Hari sabtu dulu petik kopinya.” jawab seorang perempuan tua yang adalah pemilih kebun kopi. 

Tanpa banyak basa-basi, Ana kembali mengajak Ina adiknya yang hanya diam dan terus memegang tangan kakaknya untuk kembali ke rumah.

Barulah beberapa menit mereka tiba di rumah, Ina pun mulai menangis. Rupanya ia sudah tidak sanggup menahan kesedihannya karena tidak bertemu Bapak dan Ibunya sejak bangun pagi. Ana pun panik dan coba menenangkan Ina dengan banyak rayuan.

“Ina, jangan nangis. Nanti Bapak Mama belikan Ina permen kaki warna merah. Nanti Kakak juga akan buatkan pondok main masak-masakan.” sambil mengusap air mata adiknya dan memeluknya erat.

Segala cara sudah dicoba dan hasilnya masih sama saja. Ina menangis sejadi-jadinya sampai teriakan Ibu Ria serentak membuatnya diam.

“Ana… Ana… buka pintunya Ana.” suara teriakan Ibu Ria terdengar sangat keras. 

Ana segera membuka pintu dan berlari menghampiri sumber suara Ibunya. Ia mendapati Bapaknya yang digotong Ibunya dan seorang anak muda.

“Bapak kenapa Ibu?”

“Sudah. Sudah. Sampai di rumah dulu.”

Wajah Ibu Ria sangat kusut dan terlihat baru membasahi pipinya dengan air mata. Bagaimana tidak. Ia mendapati suaminya terluka parah. Kaki kirinya tertindih batu besar yang juga memiliki struktur yang tajam, sehingga melukai punggung kaki Bapak Nandu sangat parah.

Melihat itu, Ina melanjutkan tangisannya, Ana pun ikut bersedih. Sambil memeluk Bapaknya, Ana terus bertanya tentang kejadian menyedihkan itu.

“Bapak kenapa luka. Kenapa Bapak?”

“Tidak apa-apa, ini pasti sembuh. Hanya sedikit.”

Meski begitu, Ana tahu bahwa itu hanyalah bahasa hiburan Bapaknya, sebab bagaimana mungkin kaki yang baru saja disirami semacam cairan bumbu kunyit dan masih terlihat menganga itu dibilang sedikit dan tidak apa-apa. Kaki Bapak Nandu diobati dengan ramuan obat tradisional. Belum ada kartu jaminan kesehatan kala itu. Uang pun tak cukup untuk membiayai Rumah Sakit. Pilihan obat tradisional jadi alternatif untuk mengatasi luka. 

Selang beberapa waktu kala Bapak Nandu tengah beristirahat, Ibu Ria menceritakan kepada Ana, kalau pagi-pagi sekali, Bapaknya pergi kerja buruh harian di salah satu rumah warga yang dibiayai Rp. 20.000 per harinya. Mengangkat bebatuan untuk pembangunan rumah. Karena masih sangat gelap, Bapak Nandu terkilir dan Batu yang masih dipikulnya jatuh menimpah kaki kirinya. Saat itu juga, anak muda yang datang bersama Ibunyalah yang menjemput Ibu Ria di rumah untuk segera ikut membantu suaminya.

“Sekarang jangan menangis. Harus berdoa agar Bapak bisa segera sembuh.” nasihat Ibu Ria kepada Ana dan Ina yang sama-sama berada dipelukannya.

“Seharusnya Bapak tidak perlu memaksakan diri mengerjakan itu hanya untuk beli ikan.” keluhan Ibu Ria dalam suara bisikan.

 

Foto: Pinterest

 

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

2 thoughts on ““BAPAK NANDU”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest