PROYEK MENULIS (Motivasi Menulis di Awal Tahun 2020)

ER Pictures Collection

oleh: Margareth Febhy Irene

Saya berhasil mulai menulis judul ini di menit ke 51 setelah membuka laptop, menampilkan Microsoft Word dan  menatapnya sambil berharap pikiran mulai bekerja dengan setidaknya menghadirkan satu ide atau satu hayalan baru untuk bisa menulis. Saya menghabiskan hampir satu jam hanya untuk berpikir, baiknya menulis tentang apa. Tulisan yang pastinya tidak alay, tidak terlalu berat dan tidak juga biasa-biasa saja. Then, akhirnya satu hal baik ini muncul. “Proyek Menulis”. Sebagai tulisan pembuka untuk aktivitas baru ini.

Mari kita mulai. Mulai menceritakan awal mula kenapa dalam waktu singkat saya mau join proyek ini. Saya ingat, sehabis bincang buku pertama tahun ini di hari Kamis, 23 Januari 2020 lalu bersama sahabat-sahabat Klub Buku Petra, sepintas saya mendengar percakapan antara kak dr. Ronal bersama adik Hermin yang menyebut soal proyek. Awalnya hanya berpikir bahwa itu proyek mengenai dunia kesehatan (sebab keduanya bekerja untuk orang sakit). Tetapi rasa penasaran terus mendorong untuk mencari tahu, sampai pada akhirnya berani bertanya soal proyek itu ke kakak dr. Ronal.

Singkat cerita dokter bermata sipit itu ternyata sangat antusias menceritakan bahwa beliau dan adik Hermin hendak memulai sebuah proyek yang berkaitan dengan menulis. Sebuah proyek menulis apa saja dengan seribu kata per hari. Menariknya proyek menulis tersebut wajib dibagikan setiap hari kecuali di hari Minggu dan yang melewatkan seharinya akan disangsi dengan membayar uang Rp. 20.000 (uang sangsi akan dikumpulkan dan akan dieksekusi akhir jatuh tempo). Nah, cerita kak dr. Ronal seperti menyuntik saya untuk ikut serta dalam Proyek Menulis tersebut. Luar biasa sekali dok ini, selain menyuntik pasien biar sembuh, dr. Ronal juga bisa menyuntik motivasi menulis untuk saya khususnya. 

“Kak dok, saya join”.

Malam itu, tidak hanya saya yang mau bergabung dalam Proyek Menulis, ada dua anggota lainnya,ada Cici dan Rio yang juga bergabung dan mulai menulis pada hari ini, Senin, 27 Januari 2020. Diskusi berlanjut ke Whatsapp Group. Setiap tulisan dari masing-masing anggota, wajib dikirimkan setiap hari melalui WAG atau Email. Tulisan-tulisannya bisa tentang apa saja seperti; esay, cerpen, curhatan, artikel dan lainnya dengan syarat harus 1000 kata. Sangat menarik. Ntar, kalau yang gagal fokus lalu lupa sehari, kan lumayan Rp. 20.000 bisa traktir makan pisang goreng, biar mas jawa makin kaya dan makmur.

Sejak pertemuan dan kesepakatan  untuk Join Proyek, saya mulai berpikir beberapa hal baik, bahwa dengan proyek ini, saya bisa lebih termotivasi untuk membaca lebih banyak kemudian setidaknya menulis walau sedikit setiap harinya. Hari ini akhirnya dimulai dengan satu kebiasaan baru, membaca sedikit (bacaan apa saja) sebelum memulai pekerjaan dan saya memulainya saat sambil menikmati sarapan pagi. Serius, saat itu tiba-tiba merasa keren, karena bisa mengawali hari baru dengan secangkir teh, nasi goreng buatan sendiri, plus membaca buku. Lebih sempurna lagi jika aktvitas semacam itu dilakukan di teras rumah atau di pinggir jendela, lalu ada efek angin sepoi sambil diiringi  Indie folkor atau musik kesukaan kita. Fix it’s perfect (ini saya su mulai lebai). Ok, intinya semoga kebiasaan ini direstui semesta, pikiran dan mood, sehingga setiap hari bisa terus dijalankan dan kebiasaan membaca lama boleh tergantikan.

Pada alinea ini, saya kagum karena hampir menulis 500 kata. Luar biasa, ini kemajuan yang baik. Semangat!!! 500 kata lagi (ini pun saya tulis biar bisa masuk ke 500 kata berikutnya) Opzzz… (auto tunjuk gigi)

Sungguh, saya beruntung bisa join proyek ini. Ada beberapa hal yang pernah terpikirkan kemudian bisa dituangkan oleh adanya dorongan harus (MUST, cause it’s the rule) menulis. Aturan seperti sangsi Rp. 20.000 menjadikan uang tersebut sangat berharga untuk dibayar dengan menulis saja daripada traktiran. Just like, i got the money and i got the writing. Meski baru sehari, saya merasa hari ini lebih berarti, selain bekerja di kantor dan beraktivitas di rumah, saya bisa bisa melewatkan satu hari dengan melakukan hal abadi yakni menulis dan menciptakan kenangan.

Dalam perjalanan menulis hari ini, saya kemudian teringat akan sebuah buku karya Paulo Coelho berjudul Kitab Suci KESATRIA CAHAYA. Ada apa  dengan buku Paulo? Ada sebuah kutipan tentang menulis dan banyak pesan-pesan berharga tentang kehidupan. Karena saya salah satu makluk Tuhan paling mulia yang susah menghafal ataupun mengingat dengan baik dan benar tentang kutipan usai membaca apa saja (kecuali beberapa hal tertentu seperti puisi dari kekasih), maka dengan sadar diri saya kembali menelusuri buku tersebut. 

Pada bagian prolog buku Kitab Suci KESATRIA CAHAYA hal. 12-13, ada beberapa kutipan akhir yang sangat menarik dan mengesankan.

“Tulislah: kesatria cahaya menghargai mata anak kecil, sebab mata anak kecil bisa menatap dunia tanpa kegetiran. Bila ingin mengetahui apakah orang yang berada di sisinya layak dipercaya, kesatria cahaya memandangnya dengan cara pandang seorang anak kecil.”

“Siapakah kesatria cahaya itu?”

“Engkau sudah mengetahuinya,” jawab perempuan itu sambil tersenyum. “Dia adalah orang yang bisa memahami mukjizat kehidupan, yang sungguh bertahan sampai akhir dalam memperjuangkan apa yang dia yakini_dan yang mampu mendengar dentang-denting lonceng yang diayun-ayunkan gelombang di dasar laut.”

Laki-laki itu tak pernah merasa dirinya sebagai seorang kesatria cahaya. Tetapi perempuan itu tampaknya mengetahui apa yang dipikirkannya. “ Setiap orang mampu melakukan hal-hal itu. Dan, walau tak seorang pun merasa dirinya sebagai kesatria cahaya, kita semua adalah kesatria cahaya.”

Laki-laki itu menatap halaman-halaman kosong dalam buku catatan yang kini dipegangnya. Perempuan itu kembali tersenyum.

“Tulislah tentang kesatria itu,” katanya.

Kutipan panjang dari karya Coelho ini sangat menyentuh saya. Tulislah, walau masih seperti anak kecil yang baru belajar menulis. Sebab sebenarnya dunia itu luas dan kita punya banyak kemungkinan untuk menulis tentang apa saja.  Untuk meyakinkan diri kita bisa adalah dengan mencoba dan memulainya. Saat kita yakin dan percaya kita bisa, maka segala sesuatunya bisa saja terjadi, ya… bisa jadi impian next year masing-masing kita punya buku mungkin saja bisa terwujud, seperti kata Kak dr. Ronal. Everything is posible selama kita percaya mukjizat itu ada. Setiap kita mampu dan sanggup, sebab kita semua adalah kesatria cahaya yang bisa saja suatu hari nanti, karya-karya kita bisa jadi berkat untuk sesama kita. Halleluyah!!! Maaf, saya terlalu berapi-api menyampaikan hal ini, jadinya seperti kotbah. “Proyek Menulis” adalah buku kosong yang dibagikan ke setiap kita untuk mengisinya dengan banyak hal mengagumkan. Tulislah. Selesaikanlah. Percayalah. Kita semua akan sampai pada tujuan.

            Saya hampir mencapai seribu kata pada alinea ini, tetapi jujur, rasanya pikiran, ide, imajinasi semakin mengalir, tidak ingin berhenti, tetapi saya harus menahan diri biar semua itu  bisa dibagi ke 29 hari berikutnya. Penghujung perjumpaan kita pada hari pertama ini, saya sangat ingin berterima kasih kepada Kakak dr. Ronal, Adik Hermin, Adik Rio dan Adik Cici yang dengan senang hati menerima saya untuk join Proyek berharga ini. Semoga dengan awal yang baru, saya maupun sahabat-sahabat bisa menulis dengan lebih baik dan membaca lebih banyak. TUHAN Memberkati usaha dan uang kita. Amin.

“Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri”

(Paulo Choelho_Kitab Suci KESATRIA CAHAYA bagian 4, hal. 21)

 

Foto: Eby

 

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FacebookFacebook messengerWhatsAppTwitterPinterest